Bahasa IndonesiaEnglish

Insumo Palace Hotels & Resort

» Ikat Weaving bookie Kidul

Ikat Weaving bookie Kidul

Kain tenun Bandar Kidul merupakan hasil kerajinan masyarakat  dan merupakan produk kebanggaan warga Kota Kediri. Produk ini juga sebagai oleh-oleh khas Kediri, selain  tahu kuning. Untuk itu Sholehudin terus berupaya agar usaha warisan orang tuanya tetap bertahan. Selain kegigihan dari para pelaku pengrajin tenun  sendiri, juga terus melakukan inovasi agar produknya tetap diminati masyarakat.

Kelurahan Bandar Kidul Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, merupakan sentra kerajinan tenun ikat sejak beberapa puluh tahun lalu sebelum jaman kemerdekaan. Di masa itu masyarakat banyak yang menekuni sebagai pengrajin tenun, karena bisa dikerjakan di rumah sebagai pekerjaan sampingan. Sekitar tahun 80an pengrajin tenun di Bandar Kidul, ada sekitar 20 orang, tapi seiring berjalannya waktu, jumlahnya semakin berkurang hingga tersisa 10 orang.

Saat itu para pengrajin hanya memprodusi sarung tenun goyor, sebagai tradisi turun temurun  dari orang tuanya. Makin sedikitnya pengrajin tenun ini antara lain tidak adanya motif khas, makin naiknya harga bahan baku seperti benang dan tinta serta pemasaran. Gufron adalah salah seorang pengrajin tenun ikat yang masih bertahan hingga kini. Ketrampilan ini memang ditekuninya sejak masih kecil, karena keluarganya juga pengrajin tenun.

Sejak awal munculnya pengrajin tenun, hingga sekarang masih menggunakan peralatan tradisional sederhana dan manual yang dirakit menggunakan kayu atau Alat Tenun Bukan Mesin-ATMB. Saat menenun tangan dan kaki para pengrajin bergerak secara manual, sehingga terjadi gesekan antara kayu dan menghasilkan suara seperti ini.

Suara seperti ini terasa akrab dengan masyarakat Bandar Kidul, menggambarkan masih adanya  semangat untuk berkarya. Sejak awal masyarakat Bandar Kidul menekuni tenun ikat sebagai sarung goyor dengan berbagai pola dan motif, antara lain motif anggrek, kentang-kentang, mawar, tirta dan parang rusak. Sekarang Kain tenun Bandar Kidul berinovasi dengan motif lain, tidak lagi motif sarung tapi motif kain yang bisa  digunakan sebagai baju atau busana lainnya.